Dilema Amiruddin: Hati di Kanjuruhan, Nyali untuk Makassar
Ahmad Amiruddin - (foto by Akbar)
CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Stadion Kanjuruhan bukan sekadar
tempat kerja bagi seorang Ahmad Amiruddin. Di sana, ada potongan memori masa
lalu yang terpatri kuat di benaknya.
Namun, Sabtu (9/5) sore, pria yang kini menjabat sebagai
caretaker pelatih PSM Makassar itu harus mengesampingkan nostalgia demi misi membawa
pulang poin ke Makassar.
Dalam sesi jumpa pers jelang laga pekan ke-32 Super League
2025/26, suasana hangat terasa saat Amiruddin menyapa awak media.
Baginya, menghadapi Arema FC selalu menghadirkan rasa hormat
yang mendalam. Wajar saja, ia pernah menghabiskan tiga tahun masa kariernya
berseragam Singo Edan.
"Saya selalu menaruh hormat kepada Arema," kenang
Amiruddin dengan nada tenang. "Saya pernah di sini tiga tahun. Saya tahu
betul bagaimana atmosfer di sini, terutama saat tim menelan kekalahan, apalagi
di partai derby."
Ingatannya melayang ke masa kejayaan saat ia masih aktif
merumput di Kanjuruhan. Ia menceritakan bagaimana angkernya markas Arema kala
itu, di mana mereka sempat mencatatkan rekor impresif 17 pertandingan kandang
tanpa tersentuh kekalahan.
Baginya, kekuatan Arema bukan hanya di atas kertas, melainkan
pada militansi suporternya.
"Setidaknya saya tahu, Aremania akan selalu hadir untuk
Arema. Perasaan mereka pasti berbeda jika tim baru saja menelan hasil pahit di
laga derby," tambahnya, merujuk pada tekanan mental yang mungkin sedang
dialami tuan rumah.
Meski menyimpan simpati dan harapan agar mantan timnya itu
bisa bangkit dan lebih bagus di masa depan, Amiruddin menegaskan bahwa profesionalisme
adalah panglima.
Di tengah badai cedera yang sedang menghantam skuad Juku
Eja, ia tetap memasang target tinggi.
Dengan senyum tipis yang penuh makna, ia menutup
pernyataannya dengan sebuah doa yang realistis bagi timnya saat ini.
"Saya berharap Arema ke depannya bisa lebih bagus. Tapi
untuk pertandingan besok, mudah-mudahan rezekinya buat kami dulu,"
pungkasnya.
Duel besok sore dipastikan bukan sekadar adu taktik di
lapangan, melainkan pembuktian bagi Amiruddin: mampukah ia menaklukkan
"rumah lamanya" dengan komposisi pemain yang ada, atau justru
keangkeran Kanjuruhan yang akan kembali memakan korban?
